Tuesday, August 2, 2011

Jo..ajo..kita ganjang..!!!



Kalaoe kita lapar itoe biasa.
Kalaoe kita maloe itoe djoega biasa.
Namoen, kalaoe kita lapar
ataoe maloe itoe karena Malaysia, koerang adjar!

Kerahkan pasoekan ke Kalimantan,
hadjar tjetjunguk Malayan itoe!
Poekoel dan sikat!
Djangan sampai tanah dan oedara kita
diindjak-indjak oleh Malaysian keparat itoe!

Doakan akoe,
akoe akan berangkat ke medan djoeang
sebagai patriot bangsa,
sebagai martir bangsa,
dan sebagai peloeroe bangsa
jang tak maoe diindjak-indjak harga dirinja.

Seroekan,
seroekan ke seloeroeh pelosok negeri
bahwa kita akan bersatoe untuk melawan kehinaan ini,
kita akan membalas perlakoean ini,
dan kita toendjoekkan bahwa kita masih memiliki gigi jang koeat,
dan kita djoega masih memiliki martabat.

Joo... ajoo.. kita ganjang..
Ganjang... Malaysia...
Ganjang... Malaysia...
Boelatkan tekad!
Semangat kita banjak!
Peloeroe kita banjak!
Njawa kita banjak!
Bila perloe satoe-satoe!

Mana Garuda di hatimu?
Rentangkan tanganmu selebar sayap Garuda!
Indonesia ini kita!
Kita ini Indonesia!

Dimana rasa nasionalisme-mu?
Merah-Putih kita diinjak-injak!
Garuda kita dimaki-maki!
Jiwa kita ditelanjangi!

Bangkitkan...
Bangkitkan Garuda-mu!
Buktikan bahwa kita anak Ibu Pertiwi!
Kita rantai Indonesia!

Darah kita merah!
Hati kita putih!
Gelorakan api Merah-mu!
Tunjukkan Putih hatimu!

Jangan mau diperbudak!
Kita satu!
Kita bermartabat!
Kita Indonesia!

Monday, August 1, 2011

JUST..

Hanya mo nulis singkat kok:
Firman-Nya harus terukir permanen di hatiku

hanya selalu...dia..


ini adalah penggalan dialog film yang uda aku tonton: "Little Manhattan". Haha..nice banget. Dan kata kakakku cewek, "nice and deep.."
langsung aja, cekidot......



Pada akhirnya kamu akan mendapatkan apa?
Cuma beberapa memori indah yang tak bisa kau lupakan
Sejujurnya akan ada gadis lain di luar sana

Kuharap begitu..

Tapi aku takkan mendapat cinta pertama lagi
Cinta pertamaku hanya selalu..
Dia..

-little Manhattan-

Komunikasi dan Puasa



Manusia adalah makhluk sosial. Status ini menginsyaratkan bahwa manusia satu dengan yang lainnya butuh bersosialisasi. Manusia tidak dapat hidup tanpa kehadiran dan bantuan manusia lain. Cara paling sederhana yang dapat dilakukan manusia untuk bersosialisasi adalah dengan melakukan komunikasi.

Selain berkomunikasi dengan sesamanya, manusia juga diberikan kemampuan untuk dapat berkomunikasi dengan Penciptanya. Manusia diberikan akal budi dan hikmat sehingga ia mampu memikirkan cara berkomunikasi sekaligus menerjemahkan apa yang dikatakan Penciptanya saat berkomunikasi.

Metode komunikasi dengan Pencipta agak berbeda dengan metode komunikasi dengan sesama, walaupun secara prinsip kedua hal ini melakukan proses yang sama. Salah satu hal yang menyebabkan perbedaan metode tersebut adalah karena perbedaan pribadi komunikan. Komunikasi antar sesama manusia cenderung mudah metodenya karena kedua belah pihak nyata secara fisik (Konteks ‘mudah’ di sini sedang tidak menyentuh ranah hambatan komunikasi seperti perbedaan bahasa, adat kebiasaan, kelemahan fisik, dsb). Kondisi akan berbeda saat manusia itu berkomunikasi dengan Sang Pencipta yang ‘tidak kelihatan secara fisik’. Ketika berkomunikasi dengan Penciptanya, manusia akan seperti berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Proses ini membutuhkan konsentrasi yang luar biasa dan frekuensi yang tinggi untuk melatih kepekaan terhadap apa yang akan dikatakan Pencipta.

Lantas apa hubungannya dengan berpuasa? Nah ini yang menarik. Tapi sebelum menghubungkannya mari kita melihat arti puasa. Sejauh ini nampaknya orang-orang masih berpandangan sempit tentang puasa. Puasa sering diartikan hanya sebagai upaya untuk menahan nafsu makan. Bahkan dalam KBBI (Balai Pustaka 1976) mengartikan ‘puasa’ sebagai tindakan tidak makan dan minum dengan sengaja (terutama bertalian dengan kegiatan keagamaan). Kalau kita berpuasa hanya atas motivasi menahan nafsu makan, maka kita akan kehilangan esensi dari puasa itu sendiri. Saya tergelak ketika membaca kartun di harian terbesar berskala nasional yang dimuat pada hari Minggu (31 Juli 2011) lalu. Tokoh dalam kartun tersebut digambarkan sedang berbelanja di supermarket untuk menyambut datangnya bulan puasa.
“Sahur pertama harus mewah dikitlah.. hehe bikin beef triyaki boleh juga nih..”
“Habis sahur, harus ada asupan vitamin C biar tetep fit selama puasa...”
“Sluurrp..buka puasa harus makan enak, semur ayam dikombinasi sama udang goreng mayonaise...”
“Menu buka puasa harus dengan yang manis: es buah...”
“...dipadu dengan sirup cocopandan..hmm..glek glek..”
Setelah beberapa saat dia baru tersadar bahwa kereta belanjaannya sudah menggunung. Dia bergumam,
“Loh..belanjaan kok malah membludak gini ya? Padahal kan mau puasa?!”
Haha...agak satir memang, nafsu makan yang ditahan seharian akhirnya ‘dibalas’ secara luar biasa ketika berbuka.

Ada orang yang mengatakan bahwa media mempunyai efek imitation (efek yang membuat konsumen media mengikuti atau mengimitasi apa yang disajikan media), tapi ada pula yang mengatakan justru medialah yang merepresentasi kenyataan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Contoh yang paling gampang bisa kita lihat melalui kartun tadi. Sang kartunis (atau komikus) sedang menerjemahkan apa yang terjadi dalam masyarakat ke dalam sebuah karya komiknya.

Lalu kalau puasa ini dikaitkan dengan komunikasi, maka ke dua hal ini memiliki kaitan yang erat. Menurut saya, puasa adalah moment di mana kita bisa meningkatkan kedekatan kita kepada Sang Pencipta. Inilah esensinya. Waktu-waktu yang biasanya digunakan untuk makan, karena sedang berpuasa maka waktu untuk makan bisa diganti menjadi waktu untuk berdoa kepada Tuhan (doa = komunikasi dengan Tuhan). Suasana doa akan terbantu kekhusyukannya karena badan ini seperti sudah tidak punya tenaga lagi, sehingga yang ada hanyalah keheningan dan keminimalan gerak. Hal ini dapat membantu ketike berkonsentrasi. Bukan karena kita yang malas bergerak, tapi demi berstrategi menjaga supaya dapat mengefektifkan tenaga sampai tiba waktu berbuka puasa nanti. Kita akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan suara lantang, bahkan tensi tinggi, ataupun aktifitas badaniah yang berlebihan. Ketika berpuasa kita menjadi “mendadak kalem”. Spirit seperti inilah yang akan dibawa ketika kita akan datang pada Sang Pencipta untuk berkomunikasi. Sehingga puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi sampai kepada meningkatkan komunikasi dengan Sang Pencipta. Setelah selesai berpuasa nanti diharapkan akan ada peningkatan relasi dengan Tuhan dan tentunya berdampak kepada perubahan hidup menuju arah yang lebih baik, karena sudah tentu ketika berkomunikasi dengan Sang Pencipta maka DIA hanya akan membagikan dan mengajar hal-hal baik kepada kita.

Demikian pedapat saya, semoga bermanfaat. Untuk saudara-saudaraku yang Muslim selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga hubungan dengan Sang Pencipta dapat semakin erat sehingga hati ini bisa semakin diubah dan berdampak pada perubahan karakter dan tingkah laku sehingga buahnya dapat dirasakan oleh orang lain.

Thursday, July 28, 2011

2 Tokoh Berumur Panjang


Siapa sih yang ga mau dikaruniai umur panjang? Sebagian besar orang pasti menginginkannya. Dan Sah-sah saja apabila kita memohon kepada Tuhan supaya dikaruniai umur panjang. Namun dibalik semua itu ada hal penting yang perlu kita sadari, yaitu bahwa kualitas hidup seseorang tidak ditentukan dari berapa lama ia hidup di dunia.
Minggu-minggu ini saya mendengar berita tentang dua tokoh yang sama-sama dikaruniai umur panjang. Tokoh pertama yang saya dengar beritanya adalah Hugh Hefner. Pria 86 tahun ini baru saja mengumumkan siapa pacar barunya. Dalam sebuah situs berita, terpampang jelas photo kakek tersebut yang berdamping mesra dengan perempuan muda berambut pirang. Dan ternyata, perempuan yang ada dalam photo tersebut adalah perempuan ke dua yang dipacari bos majalah pria dewasa itu pasca pembatalan pernikahannya dengan perempuan muda lainnya lagi beberapa minggu yang lalu. Dan memang sudah menjadi rahasia umum, kalau Hugh Hefner ini suka berpetualang dari satu perempuan ke perempuan yang lain. Ia dengan mudah mendapatkan perempuan-perempuan muda nan cantik dan seksi karena jabatannya sebagai bos majalah pria dewasa. Banyak perempuan antri menjadi model majalah tersebut karena bayarannya sangat tinggi. Bagi kita mungkin akan mengatakan bodoh kepada perempuan yang mau menjadi model majalah tersebut apalagi sampai mau menjadi pacar Hugh Hefner. Tapi bagi perempuan yang kita katakan bodoh itu mungkin akan berpikiran lain. Menjadi model majalah milik Hugh Hefner adalah sebuah impian untuk merintis karir dan menggapai cita-cita yang lebih tinggi. Gaya hidup pria renta ini beberapa kali hampir merenggut nyawanya. Misalnya yang paling mencengangkan adalah ia hampir mati karena menelan s*x toy yang digunakannya.
Tokoh kedua yang saya dengar beritanya adalah John Stott. Pria berkebangsaan Inggris ini telah meninggal dunia pada tanggal 27 Juli 2011 dalam usia 90 tahun. Apa yang dikerjakan John Stott ini sangat bertolak belakang dengan Hugh Hefner. Sebagian besar hidupnya dipersembahkan untuk melayani Tuhan. Karunia hikmat yang ia miliki dituangkan dalam tulisan-tulisan yang memberkati banyak orang. Ia menulis banyak sekali buku dan sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia. Ia menjadi inspirasi bagi banyak hamba Tuhan di seluruh dunia. Kalau kita datang ke kediamannya mungkin kita akan terkejut. Walau statusnya adalah penulis banyak buku yang diterbitkan ke seluruh dunia dan pembicara internasional, ternyata ia hanya tinggal di sebuah apartemen sederhana. Dari sini bisa kita lihat bahwa hidupnya memang dicurahkan untuk pelayanan, bukan untuk mencari kekayaan dan kesenangan pribadi.
Dari contoh hidup dua tokoh yang sama-sama dikaruniai umur panjang tadi, apa yang terbersit dalam pikiran kita? Mungkin dengan kejam kita akan berpikir lebih baik umur Hefner dikurangi beberapa puluh tahun dan diberikan kepada John Stott. Kebobrokan generasi yang disebabkan oleh Hefner dapat diminimalisir sedangkan bonus puluhan tahun yang diterima John Stott dapat digunakan lebih maksimal lagi untuk memberkati orang banyak.
Ahh... ga usahlah kita berandai-andai, sudah terlambat, karena Pak John Stottnya juga sudah pergi meninggalkan kita. Tapi paling tidak, kisah kedua tokoh tersebut menjadi pelajaran. Pilihan ada pada kita, apakah kita akan mencontoh gaya hidup Hugh Hefner yang hedonis dan mengedepankan hawa nafsu atau meneladani John Stott yang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Umur panjang itu baik, tapi lebih baik lagi kalau umur panjang itu digunakan untuk mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dengan demikian hidup kita akan pantas disebut berkualitas.

Makna sebuah titipan



Tulisan ini aku copas (ketik ulang) dari sebuah artikel yang aku baca. Karena pikirku bagus ya aku posting aja di sini...hehe monggo..



Sultan Hamengku Buwono X, “Merajut KeIndonesiaan Kita” (Gramedia 2007)

Seringkali aku berkata, ketika seorang memuji milikku, bahwa:
Sesunggunya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
Bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
Bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
Bahwa putraku hanya titipan-Nya,

Tetapi, mengapa aku tak penah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,

Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas semua “perlakuan baikku,”
dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.”

ketika Tuhan berkata tidak

Ya Tuhan, ambilah kesombongan dariku!
Tidak.. bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya..

Ya Tuhan, sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat
Tidak… jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara

Ya Tuhan beri aku kesabaran
Tidak.. kesabaran didapat dari ketabahannya dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri…

Ya Tuhan beri aku kebahagiaan
Tidak… kuberi keberkahan, kebahagiaan bergantung pada dirimu sendiri

Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan
Tidak…penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu padaKU

Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat
Tidak… aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal

Ya Tuhan, bantu aku mencintai orang lain, sebesar cintaMU padaku
Ahhh.. akhirnya kau mengertii…